Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Kutai Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Kutai

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Malang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Malang

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Yogyakarta

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Bandung Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Bandung

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Pontianak Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Pontianak

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Samarinda Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Samarinda

Agen Tiket Pesawat di Palembang

Agen Tiket Pesawat di Palembang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Palembang

saco-indonesia.com, Tim Search and Rescue (SAR) gabungan akhirnya telah berhasil menemukan satu korban terakhir dari 3 pelajar y

saco-indonesia.com, Tim Search and Rescue (SAR) gabungan akhirnya telah berhasil menemukan satu korban terakhir dari 3 pelajar yang tenggelam di Waduk Cengklik, Boyolali, Jawa Tengah Rabu (18/12) kemarin. Korban terakhir yang telah ditemukan adalah Angel Pramana Putra yang berusia (15) tahun , dalam kondisi meninggal dunia sekitar pukul 18.43 WIB.

Kepala Basarnas Jawa Tengah , Agus Haryono yang juga ikut dalam melakukan evakuasi mengatakan, ketiga korban yang telah ditemukan tidak bisa diselamatkan lantaran tenggelamnya yang cukup lama.

"Korban pertama Hendi Pradana telah ditemukan oleh Tim Penyelam SAR Gabungan. Dua korban berikutnya telah ditemukan tertangkap oleh jaring nelayan yang mencari ikan di sekitar lokasi kejadian," ujar Agus.

Ditemui terpisah, Komandan SAR HNC Lanud Adi Soemarmo Solo, Dwiyanto juga menuturkan faktor cuaca buruk telah membuat proses evakuasi ketiga korban sempat terhambat. Kondisi air waduk yang keruh dan berlumpur juga telah membuat tim penyelam kesulitan melakukan pencarian di dasar waduk.

"Jarak pandang di dasar waduk juga sangat terbatas. Tim kami juga telah mengalami kesulitan," jelas Dwiyanto.

Seperti yang telah diketahui, tiga orang pelajar SMPN 1 Colomadu tenggelam saat perahu yang telah ditumpangi terguling pada rabu (18/12) kemarin. Pencarian 3 korban tenggelam telah sempat dihentikan pada Rabu malam, lantaran hujan dan kurangnya penerangan.

Sesuai Standar Operasional Prosedur SAR, pencarian dihentikan, untuk kemudian dilanjutkan pada Kamis pagi. Petugas pun akhirnya telah menemukan korban yaitu Christopus Satria Wibowo (15) warga Mantren Colomadu Karanganyar dan Hendi Perdana (15) warga Gedongan Colomadu, Karanganyar, pada siang hari dan sore hari.

Setelah ditemukan korban pun langsung diotopsi dan diserahkan ke pihak keluarga untuk segera dimakamkan.


Editor : Dian Sukmawati

Sifadiafira Adalah Perusahaan Rental Mobil di Jakarta. Memberikan Layanan sewa mobil dengan harga murah. Armada yang tersedia: A

Sifadiafira Adalah Perusahaan Rental Mobil di Jakarta. Memberikan Layanan sewa mobil dengan harga murah. Armada yang tersedia: Avanza, Inova, Travello, Luxio dll. Dapat digunakan untuk harian, Bulanan, atau Tahunan. Tersedia juga Paket untuk Perusahaan, Pribadi, Hari Raya atau Mudik Lebaran serta Moment-moment Liburan, Akhir Tahun, Natal atau Tahun baru.

Bersama kami, Anda bisa memilih yang sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan, semuanya terjamin kebersihannya dan yang pasti layak pakai karena rata-rata tahun pembuatan dari mobil-mobil tersebut diatas tahun 2008 dilengkapi dengan berbagai fitur yang dapat memberikan kenyamanan selama dalam perjalanan anda seperti : Pemutar Musik dan AC.

Disamping itu Armada mobil yang kami sewakan juga sudah di Cover dengan Asuransi All Risk, sehingga akan semakin menambah kenyamanan perjalanan anda tanpa harus khawatir jika terjadi sesuatu di luar dugaan seperti kecelakaan, terbentur atau segala sesuatu yang mengakibatkan hilang nya fungsi dari mobil atau kerusakan sehingga mobil tidak dapat berjalan atau lecet dan baret-baret maka anda tidak di bebankan biaya penggantian melebihi dari batas yang tetapkan.

Nikmati Layanan Sewa Mobil bersama Sifadiafira Car Rental Kebutuhan Transportasi anda menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Tujuan Utama kami adalah memberikan layanan Rental Mobil yang berkualitas.

Dimulai dari ketidakpuasan terhadap perusahaan-perusahaan jasa pengiriman barang antar pulau via laut yang pelayanannya monoton

Dimulai dari ketidakpuasan terhadap perusahaan-perusahaan jasa pengiriman barang antar pulau via laut yang pelayanannya monoton dan lambat pada waktu itu, memerlukan waktu hingga sebulan bahkan lebih untuk berkirim barang ke luar pulau, khususnya ke Indonesia bagian timur, maka kami berusaha mencari moda angkutan yang mampu melayani dengan cepat dan tepat waktu, dengan biaya yang terjangkau, guna memenuhi tenggat dan ketepatan waktu yang bisa diandalkan.

Usaha kami masih sangat kecil dimulai sekitar medio 1994, kami bekerja sama memakai kapal-kapal penumpang yang belum terlalu diketahui oleh pemakai jasa pada saat itu. Kapal-kapal ini melayani angkutan penumpang dan juga kargo dalam jumlah terbatas, mereka melayari dengan persinggahan dibanyak pelabuhan dan kota besar di Indonesia Timur dalam skedul waktu yang ketat dan dengan kecepatan kapal yang bisa menepati jadwal tetapnya.

Kapal-kapal ini adalah milik Negara yang semuanya di operasikan oleh PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PT. PELNI), orang awam kini menyebut “kapal putih”. Saat ini sudah 12 tahun lebih kami bermitra usaha dangan PT.PELNI, mengangkut hampir semua kebutuhan bahan pokok, barang kering (dry cargo), maupun barang basah (frozen dan fresh chilled cargo). Bahkan sejak tahun 1998 kapal-kapal PT. PELNI sudah menambah kapal-kapal baru dengan fasilitas angkutan dalam satuan container 200 feet baik dry maupun frozen/reefers container. Variasi angkutan makin komplit sejak PT.PELNI memodifikasi KM.Dobonsolo menjadi kapal pertama berkemampuan “three in one” yang bisa mengangkut penumpang, cargo container, dan kendaraan roda dua dan roda empat.

Saat ini Alois Gemilang telah menjadi perusahaan jasa angkutan yang diandalkan konsumennya di hampir semua tujuan-tujuan penting di Indonesia Timur, sering kali juga menjadi andalan perusahaan-perusahaan milik Negara dan swasta yang mengirim barang dengan prioritas tinggi, contohnya: PT. PLN, PT,TELKOM, TELKOMSEL Tbk, Hypermart Group, PT. Wonokoyo, Walls, Campina dan masih banyak lagi.

Alois Gemilang mempunyai spesialis service untuk jasa pengiriman barang antar pulau.

Matahari terbenam menjadi rembulan Daun yang gugur menjadi kering Hujan yang redup menjadi pelangi Namun cinta ku yang sempurna , menjadi kenangan yang tak terlupakan Harapan hanya bisa berharap yang belum tentu terjadi Namun kenyataan yang bisa membuktikan nya. Ku harap kau bisa bahagia selalu, Sehat selalu, tersenyum selalu, Dan menjadi kebanggaan orang yg kau sayangi dan kau cintai. Walau kenyataan ini tak mungkin lagi ku mengharapkan

           Sebuah kenyataan

 

Matahari terbenam menjadi rembulan

Daun yang gugur menjadi kering

Hujan yang redup menjadi pelangi

 Namun cinta ku yang sempurna , menjadi kenangan yang tak terlupakan

       Harapan hanya bisa berharap yang belum tentu terjadi

        Namun kenyataan yang bisa membuktikan nya.

Ku harap kau bisa bahagia selalu,

Sehat selalu, tersenyum selalu,

Dan menjadi kebanggaan orang yg kau sayangi dan kau cintai.

Walau kenyataan ini tak mungkin lagi ku mengharapkan

Dari mu……

Namun antara iklas dan dan tidak, sulit tuk ku percayai.

tapi bagaimana pun ke iklasan untuk melepaskan mu

dari diri ku harus ku relakan, karna ku tak lagi ada di hati mu!

  Do’a ku selalu mengiringi setiap langkah mu,

Dan  KAU AKAN TETAP DI HATI SELAMA NYA

 

Devan alfandy

    07uni1o

MQ Travel mengadakan Wisata Muslim China (9 hari 8 malam) pada 20-28 Desember 2013 Rute: BEIJING – SHANGHAI – HANGZ

MQ Travel mengadakan Wisata Muslim China (9 hari 8 malam) pada 20-28 Desember 2013
Rute: BEIJING – SHANGHAI – HANGZHOU – SUZHOU

 

Hari 1 Jakarta – Beijing , 20 Desember 2013
Penerbangan dengan GA 890 Pk. 22.45 WIB.

Hari 2 Beijing, 21 Desember
Tiba di Beijing sekitar Pk.06.55 | kunjungan ke Lapangan Tiananmein yang merupakan alun-alun kota terbesar di dunia, berbatasan dengan Aula Besar Rakyat dan Mausoleum Ketua Mao, dilanjutkan tour ke Kota Terlarang, kompleks kekaisaran istana dan Sholat Dzuhur dan Ashar bersama di  Mesjid Nan Dou Ya.

Hari 3 Beijing, 22 Desember 2013
Perjalanan ke Tembok China | Kunjungan ke Museum Giok dan belanja di Burning Cream Center, Stadion Olimpiade | Berbelanja di Wang Fu Jing Shooping Street dan Pasar Makanan.

Hari 4 Beijing, 23 Desember 2013
Kunjungan ke Istana Musim Panas, Masjid Madian | dilanjutkan berbelanja di pasar lokal Pasar Xiushui.

Hari 5 Beijing – Shanghai, 24 Desember 2013
Perjalanan ke Shanghai menggunakan kerta api cepat (high speed railway-5,5 jam) | Kunjungan ke Masjid Xiaotaoyuan yang merupakan mesjid paling terkenal di Shanghai dan Oriental Pearl TV Tower (menara TV tertinggi di Asia dan tertinggi ketiga di dunia) | ditutup dengan program Huang Pu River Cruise, makan malam sambil menyusuri sungai.

Hari 6 Shanghai – Hangzhou, 25 Desember 2013
Perjalanan dengan bus ke Hangzhou mengunjungi Leifeng Pagoda, Changqiao Park, Phoenix Mosque, and Ming & Qing Dynasty Ancient Street.

Hari 7 Hangzhou – Suzhou, 26 Desember 2013
Sampai di Suzhou mengunjungi West Lake, Viewing Fish and Lotus Ponds at Flower Harbor | Kunjungan ke Well Tea Village (kampong teh)

Hari 8 Suzhou – Shanghai, 27 December 2013
Masih di Suzhou: kunjungan ke Ou Yuan Garden, The Jinji Lake Scenic Area from outside | Perjalanan ke Shanghai, kunjungan ke Oriental Pearl TV Tower (the 2nd Ball) dan Old Shanghai History Museum.

Hari 9 Shanghai – Jakarta , 28 December 2013
Kembali ke Jakarta dengan GA 895 Pk. 10.05 waktu lokal. Diperkirakan tiba di Jakarta jam 15.25 WIB.

===========================================================================

HARGA
Hotel    Twin/Triple Sharing    Single Supplement
4 Star    USD 1,825 / pax (Adult)
USD 1,700 / pax (Child with Bed)
USD 1,650 / pax (Child no Bed)    USD180 / pax

HOTEL YANG DIGUNAKAN :
Beijing: Rosedale Hotel (www.longdinghuahotel.com) atau setaraf
Shanghai: Holiday Inn Express Zhabei (www.holidayinn.com) atau setaraf
Hangzhou: Hotel Amethyst (www.zjzjhotel.com) atau setaraf

HARGA SUDAH TERMASUK:
1.    Tiket pesawat menggunakan Garuda Airline (economy class) pp
2.    Sudah termasuk Visa Cina dan Air port tax
3.    Hotel, makan 3x sehari (Halal Food)

HARGA BELUM TERMASUK:
1.    Tour tambahan dan Asuransi
2.    Pengeluaran yang bersifat pribadi, seperti minuman, souvenir, panggilan telepon,dll
3.    Tips untuk supir dan guide (US2.00/ hari/pax untuk guide , US1.00/hari/pax untuk supir.

INFORMASI & PENDAFTARAN
PT. MANAJEMEN QOLBU TAUHIID (MQ TRAVEL)
Jl. CIPAKU  NO. 18, KEBAYORAN BARU, JAKARTA 12170
Telepon: +62-21-7235255; HP: 0838 20201111; 02193151617 Fax. +62-21-7235258,
E-mail: mqtravel@dtjakarta.or.id, website: www.mqtravel.co.id

KBIH DAARUT TAUHIID BANDUNG
JL. GEGER KALONG GIRANG
CP: LUKMAN – 0815 7113700

*Jadwal sewaktu-waktu dapat berubahan tanpa mengurangi waktu dan tempat tujuan yang dikunjungi

Sumber : http://www.mqtravel.co.id

Baca Artikel Lainnya : MENGETAHUI CARA KEBERANGKATAN HAJI

Maharajo Dirajo Dalam hal ini timbul suatu kontradiksi keterangan-keterangan, yaitu nama Maharajo Dirajo sudah disebutkan se

Maharajo Dirajo Dalam hal ini timbul suatu kontradiksi keterangan-keterangan, yaitu nama Maharajo Dirajo sudah disebutkan sebelumnya sebagai salah seorang panglima Iskandar Zulkarnain yang tugaskan menguasai Pulau Emas. Kalau memang demikian keadaannya, lalu bagaimana dengan Maharajo Dirajo yang sedang kita bicarakan ini yang waktunya sudah sangat jauh berbeda. Dalam hal ini kita tidak dapat memberikan jawaban yang pasti. Maharajo Dirajo yang sudah kita bicarakan hanya merupakan perkiraan saja dan belum tentu benar. Tetapi berdasarkan logika berfikir kira-kira diwaktu itulah hidupnya Maharajo Dirajo jika dihubungkan dengan nama Iskandar Zulkarnain. Sedangkan Maharajo Dirajo yang sedang dibicarakan sekarang ini adalah seperti yang dikatakan Tambo Alam Minangkabau yang mana yang benar perlu penelitian lebih lanjut. Dalam kesempatan ini kita hanya ingin memperlihatkan betapa rawannya penafsiran dari data yang diberikan Tambo Alam Minangkabau. Maharajo Dirajo yang sekarang dibicarakan adalah Maharajo Dirajo seperti yang dikatakan Tambo. Dalam hal ini kita ingin mengangkat data dari Tambo menjadi Fakta sejarah Minangkabau. Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), tetapi Josselin de Jong mengatakan, menjadi raja di Turki. Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera). Kalau kita melihat kalimat-kalimat Tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan sorang Maharajo Alif, nan pai ka banua Ruhun, nan sorang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan sorang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhun, yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera). Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya. Percantuman raja Romawi dalam Tambo menurut hemat kita hanya usaha dari pembuat Tambo untuk menyetarakan kemasyhuran raja Minangkabau dengan nama raja di luar negeri yang memang sudah sangat terkenal di seantero penjuru dunia. Dengan mensejajarkan kedudukan raja-raja Minangkabau dengan raja yang sangat terkenal itu maka pandangan rakyat Minangkabau terhadap rajanya sendiri akan semakin tinggi pula. Disini kita bertemu dengan satu kebiasaan dunia Timur untuk mendongengkan tuah kebesaran rajanya kepada anak cucunya. Gelar Maharajo Dirajo sendiri terlepas ada tidaknya raja tersebut, menunjukan kebesaran kekuasaan rajanya, karena istilah itu berarti penguasa sekalian raja-raja yang tunduk di bawah kekuasaannya. Josselin de Jong mengatakan Lord of the Word atau Raja Dunia. Dalam sejarah Indonesia gelar Maharaja Diraja tidak hanya menjadi milik orang Minangkabau saja, melainkan juga ada raja lain yang bergelar demikian seperti Karta Negara dari Singasari dengan gelar Maharaja Diraja seperti yang tertulis pada arca Amogapasa tahun 1286 sebagai atasan dari Darmasraya yang bernama raja Tribuana. Tambo mengatakan bahwa Maharajo Dirajo adalah raja Minangkabau pertama. Tetapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Srimaharaja Diraja yang disebut dalam tambo sebagai raja Minangkabau yang pertama itu tidak lain dari Adityawarman sendiri yang menyebut dirinya dengan Maraja Diraja. Tentang Adityawarman mempergunakan gelar Maharaja Diraja memang semua ahli sudah sependapat, karena Adityawarman sendiri telah menulis demikian dalam prasasti Pagaruyung. Dari gelar Maharaja Diraja yang dipakai Adityawarman menunjukan kepada kita bahwa sewaktu Adityawarman berkuasa di Minangkabau tidak ada lagi kekuasaan lain yang ada di atasnya, atau dengan perkataan lain dapat dikatakan pada waktu itu Minangkabau sudah berdiri sendiri, tidak berada di bawah kekuasaan Majapahit atau sudah melepaskan diri dari Majapahit. Kerajaan Majapahit adalah ahli waris dari Singasari. Sedangkan Singasari pernah menundukkan melayu Darmasraya, tentu berada di bawah kekuasaan Singasari - Majapahit itu, maka untuk melepaskan diri dari Singasari - Majapahit itu Adiyawarman memindahkan pusat kekuasaannya kepedalaman Minangkabau dan menyatakan tidak ada lagi yang berkuasa di atasnya dengan memakai gelar Maharaja Diraja. Ada sesuatu pertanyaan kecil yang perlu dijawab, yaitu apakah tidak ada lagi kemungkinan bahwa gelar Maharajo Dirajo itu merupakan gelar keturunan bagi raja-raja Minangkabau, sehingga diwaktu Adityawarman menjadi raja di Minangkabau dia merasa perlu mempergunakan gelar tersebut agar dihormati oleh rakyat Minangkabau. Kalau memang demikian, maka kita akan dapat menghubungkannya dengan Maharajo Dirajo yang kita bicarakan kehidupannya sebelum abad Masehi. Tetapi hal ini kembali hanya berupa dugaan saja yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Kalau kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Maharaja Diraja itu sama dengan Adityawarman, maka satu kepastian dapat dikatakan bahwa kerajaan Minangkabau baru bermula pad tahun 1347, yaitu pada waktu Adityawarman menjadi raja di Minangkabau yang berpusat di Pagaruyuang. Logikanya tentu sebelum Adityawarman, belum ada raja di Minangkabau, kalau ada baru merupakan daerah-daerahyang dikuasai oleh seorang kepala suku saja. Kalau pendapat itu tidak dapat diterima kebenarannya, maka tokoh Maharajo Dirajo yang disebut di dalam Tambo itu masih tetap merupakan seorang tokoh legendaris dalam sejarah Minangkabau dan hal ini akan tetap mengundang bermacam-macam pertanyaan yang pro dan kontra. Kemungkinan gelar Maharajo sudah dipergunakan sebelum kedatangan Adityawarman memang ada. Tetapi apakah gelar itu merupakan gelar keturunan dari raja-raja Minangkabau masih belum lagi dapat diketahui dengan pasti. Yang jelas pada waktu sekarang ini, banyak gelar para penghulu di Sumatera Barat yang memakai gelar Maharajo sebagai gelar kepenghulunya disamping nama lainnya, seperti Dt. Maharajo, Dt. Marajo, Dt. Maharajo Basa, Dt. Maharajo Dirajo. Kelihatan gelar tersebut dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau sebagai gelar pusaka yang turun-menurun. Sebaliknya raja-raja Pagaruyung sendiri tidak mempergunakan gelar tersebut sebagai pusaka kerajaannya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gelar Maharajo Dirajo tersebut merupakan gelar pusaka Minangkabau dan sudah ada sebelum Adityawarman menjadi raja di Pagaruyung. Barangkali memang gelar itu diturunkan dari Maharajo dirajo seperti disebutkan dalam Tambo itu.

Berikut beberapa tips memilih lampu Hias: 1. Rumah minimalis akan telah memiliki terkesan lebih bersih, sederhana dan bergaya

Berikut beberapa tips memilih lampu Hias:

1. Rumah minimalis akan telah memiliki terkesan lebih bersih, sederhana dan bergaya dengan lampu hias minimalis juga. Adapun rumah dengan gaya klasik, untuk dapat menyoroti gaya klasiknya cocok dengan lampu kristal atau crystal chandelier

2. Untuk dapat menampilkan nilai estetika yang telah memiliki nilai lebih bahan yang digunakan untuk lampu hias harus menggunakan bahan yang cukup baik untuk dapat memberikan kesan tersendiri didalam ruangan. Ada banyak pilihan untuk bahan lampu hias seperti: kaca, kristal dari plastik, stainless steel, dan bahan – bahan alami seperti daun, rotan dan sebagainya.

3. Pilih bohlam yang telah terbuat dari bahan yang berkualitas, hemat energi, sistem pemasangannya mudah, ringan dan sesuai dengan estetika.

4. Agar Lampu hias tetap terlihat canti, rawatlah ornamen – ornamen lampu dengan membersihkannya secara berkala dengan kain kering yang halus atau kemoceng.

Kalau terbuat dari kaca dan dapat di lepaskan, Anda juga dapat mencuci kaca dengan dengan air dan sedikit sabun. Lalu keringkan dan setiap bagiannya harus dibersihkan dengan hati – hati agar tidak tergores atau pecah.

5. Pemilihain lampu hias juga harus mempertimbangkan ukuran besar atau kecilnya suatu ruangan. Misalnya untuk ruangan yang kecil, alangkah baiknya anda telah memilih lampu yang juga ukurannya tidak terlalu besar.

Untuk dapat menghemat Ruangan dan untuk menambah cahaya, anda juga dapat memilih lampu hias yang menempel pada langit – langit atau downlight. Dan sebaliknya, apabila ruangan anda besar maka alangkah baiknya anda memilih lampu hias gantung.

6. Untuk kamar yang membutuhkan cahaya terang, seperti ruang tamu, Ruang keluarga dan ruang makan, anda juga dapat memilih lampu kuning atau putih.

Sedangkan untuk suasana dramatis, seperti kamar tidur anda harus menggunakan lampu yang berwarna kebiruan.

WASHINGTON — The former deputy director of the C.I.A. asserts in a forthcoming book that Republicans, in their eagerness to politicize the killing of the American ambassador to Libya, repeatedly distorted the agency’s analysis of events. But he also argues that the C.I.A. should get out of the business of providing “talking points” for administration officials in national security events that quickly become partisan, as happened after the Benghazi attack in 2012.

The official, Michael J. Morell, dismisses the allegation that the United States military and C.I.A. officers “were ordered to stand down and not come to the rescue of their comrades,” and he says there is “no evidence” to support the charge that “there was a conspiracy between C.I.A. and the White House to spin the Benghazi story in a way that would protect the political interests of the president and Secretary Clinton,” referring to the secretary of state at the time, Hillary Rodham Clinton.

But he also concludes that the White House itself embellished some of the talking points provided by the Central Intelligence Agency and had blocked him from sending an internal study of agency conclusions to Congress.

Photo
 
Michael J. Morell Credit Mark Wilson/Getty Images

“I finally did so without asking,” just before leaving government, he writes, and after the White House released internal emails to a committee investigating the State Department’s handling of the issue.

A lengthy congressional investigation remains underway, one that many Republicans hope to use against Mrs. Clinton in the 2016 election cycle.

In parts of the book, “The Great War of Our Time” (Twelve), Mr. Morell praises his C.I.A. colleagues for many successes in stopping terrorist attacks, but he is surprisingly critical of other C.I.A. failings — and those of the National Security Agency.

Soon after Mr. Morell retired in 2013 after 33 years in the agency, President Obama appointed him to a commission reviewing the actions of the National Security Agency after the disclosures of Edward J. Snowden, a former intelligence contractor who released classified documents about the government’s eavesdropping abilities. Mr. Morell writes that he was surprised by what he found.

Advertisement

“You would have thought that of all the government entities on the planet, the one least vulnerable to such grand theft would have been the N.S.A.,” he writes. “But it turned out that the N.S.A. had left itself vulnerable.”

He concludes that most Wall Street firms had better cybersecurity than the N.S.A. had when Mr. Snowden swept information from its systems in 2013. While he said he found himself “chagrined by how well the N.S.A. was doing” compared with the C.I.A. in stepping up its collection of data on intelligence targets, he also sensed that the N.S.A., which specializes in electronic spying, was operating without considering the implications of its methods.

“The N.S.A. had largely been collecting information because it could, not necessarily in all cases because it should,” he says.

The book is to be released next week.

Mr. Morell was a career analyst who rose through the ranks of the agency, and he ended up in the No. 2 post. He served as President George W. Bush’s personal intelligence briefer in the first months of his presidency — in those days, he could often be spotted at the Starbucks in Waco, Tex., catching up on his reading — and was with him in the schoolhouse in Florida on the morning of Sept. 11, 2001, when the Bush presidency changed in an instant.

Mr. Morell twice took over as acting C.I.A. director, first when Leon E. Panetta was appointed secretary of defense and then when retired Gen. David H. Petraeus resigned over an extramarital affair with his biographer, a relationship that included his handing her classified notes of his time as America’s best-known military commander.

Mr. Morell says he first learned of the affair from Mr. Petraeus only the night before he resigned, and just as the Benghazi events were turning into a political firestorm. While praising Mr. Petraeus, who had told his deputy “I am very lucky” to run the C.I.A., Mr. Morell writes that “the organization did not feel the same way about him.” The former general “created the impression through the tone of his voice and his body language that he did not want people to disagree with him (which was not true in my own interaction with him),” he says.

But it is his account of the Benghazi attacks — and how the C.I.A. was drawn into the debate over whether the Obama White House deliberately distorted its account of the death of Ambassador J. Christopher Stevens — that is bound to attract attention, at least partly because of its relevance to the coming presidential election. The initial assessments that the C.I.A. gave to the White House said demonstrations had preceded the attack. By the time analysts reversed their opinion, Susan E. Rice, now the national security adviser, had made a series of statements on Sunday talk shows describing the initial assessment. The controversy and other comments Ms. Rice made derailed Mr. Obama’s plan to appoint her as secretary of state.

The experience prompted Mr. Morell to write that the C.I.A. should stay out of the business of preparing talking points — especially on issues that are being seized upon for “political purposes.” He is critical of the State Department for not beefing up security in Libya for its diplomats, as the C.I.A., he said, did for its employees.

But he concludes that the assault in which the ambassador was killed took place “with little or no advance planning” and “was not well organized.” He says the attackers “did not appear to be looking for Americans to harm. They appeared intent on looting and conducting some vandalism,” setting fires that killed Mr. Stevens and a security official, Sean Smith.

Mr. Morell paints a picture of an agency that was struggling, largely unsuccessfully, to understand dynamics in the Middle East and North Africa when the Arab Spring broke out in late 2011 in Tunisia. The agency’s analysts failed to see the forces of revolution coming — and then failed again, he writes, when they told Mr. Obama that the uprisings would undercut Al Qaeda by showing there was a democratic pathway to change.

“There is no good explanation for our not being able to see the pressures growing to dangerous levels across the region,” he writes. The agency had again relied too heavily “on a handful of strong leaders in the countries of concern to help us understand what was going on in the Arab street,” he says, and those leaders themselves were clueless.

Moreover, an agency that has always overvalued secretly gathered intelligence and undervalued “open source” material “was not doing enough to mine the wealth of information available through social media,” he writes. “We thought and told policy makers that this outburst of popular revolt would damage Al Qaeda by undermining the group’s narrative,” he writes.

Instead, weak governments in Egypt, and the absence of governance from Libya to Yemen, were “a boon to Islamic extremists across both the Middle East and North Africa.”

Mr. Morell is gentle about most of the politicians he dealt with — he expresses admiration for both Mr. Bush and Mr. Obama, though he accuses former Vice President Dick Cheney of deliberately implying a connection between Al Qaeda and Iraq that the C.I.A. had concluded probably did not exist. But when it comes to the events leading up to the Bush administration’s decision to go to war in Iraq, he is critical of his own agency.

Mr. Morell concludes that the Bush White House did not have to twist intelligence on Saddam Hussein’s alleged effort to rekindle the country’s work on weapons of mass destruction.

“The view that hard-liners in the Bush administration forced the intelligence community into its position on W.M.D. is just flat wrong,” he writes. “No one pushed. The analysts were already there and they had been there for years, long before Bush came to office.”

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

Ms. von Furstenberg made her debut in the movies and on the Broadway stage in the early 1950s as a teenager and later reinvented herself as a television actress, writer and philanthropist.

Ms. Turner and her twin sister founded the Love Kitchen in 1986 in a church basement in Knoxville, Tenn., and it continues to provide clothing and meals.

Mr. Miller, of the firm Weil, Gotshal & Manges, represented companies including Lehman Brothers, General Motors and American Airlines, and mentored many of the top Chapter 11 practitioners today.

Ms. Crough played the youngest daughter on the hit ’70s sitcom starring David Cassidy and Shirley Jones.